Curhat Remaja; Rindu sahabat atau gebetan, benarkah?


Assalamualaikum kawan, kenalkan namaku Denni Ardiansyah. Saya tinggal di sebuah kota yang menurut perencanaan akan di kembangkan menjadi ibukota provinsi Sumatera Tengah yaitu kota Lubuklinggau. Kota yang mengandalkan perekonomiannya di sektor jasa dan pertanian (padi). Sebenarnya  saat sekarang, jam dinding telah menunjuk 24:04 WIB atau istilah inggris nya “Time is over (waktu telah terlewat lama)” maksudnya waktunya itu loh sudah terlewat terlalu lama untuk istirahat. aku ditemani oleh seorang sepupuku di sebuah kamar yang berukuran 3x4 meter itu aku menulis curhatan ini. Entah mengapa aku mempunyai nafsu menulis curhat ini, mungkin karena bisikan jin kali atau efek trauma cinta kali ya. Hehehe . . . jangan mengira, aku menulis ini karena aku ingin mencuri perhatianmu atau aku ingin mendramatisirkan keadaan, tentu tidak sama sekali. Satu-satunya alasan aku menulis karena aku rindu, Kepada siapa? Kamu? Bukan. Tapi dia. Dia yang telah melukiskan kenangan indah dalam hidup ini.
Untuk kamu yang sempat hadir dalam warna kehidupanku. Apa kabar? Libur panjang sekolah sudah tiba? Apa yang dirimu lakukan sekarang? Jangankan saling bertanya kabar, saling sapa pun sudah sangat jarang sekali. Aku maklumi itu semua, aku menghargai alur kehidupanmu, meski engkau peduli atau tidak dengan cerita hidupku.
                Jadi ini terjadi sekitar 10 bulan yang lalu saat aku meranjak ke kelas XI, saat warga sekolah mulai mengenalku dikarenakan aku terpilih menjadi seorang ketua Jurnalistik sekolah, saat rasa cinta mengebu-gebu merasuki jiwaku, saat aku mulai mempunyai gebetan pertamaku, saat aku mulai di percaya oleh orang tua membawa sepeda motor ke sekolah. Memasuki kelas XI, saya berasa mempunyai segalanya, kenapa? harta? Aku punya banyak tabungan. Tahta? Jabatanku ketua di sekolah, semua teman menghormatiku. Wanita? Mungkin gebetan itu. Ya gebetan itu, sebut saja inisialnya ‘F’. percaya atau enggak aku dari SD sampai kelas XI SMA tidak pernah mempunyai gebetan ataupun pacar, walaupun cewek yang nembak banyak dan menunggu antrian. Hehehe. . . aku akui, insial F adalah cinta pertamku. Kenapa? Karena aku merasakan dag dig dug tak menentu atau suasana hati senang saat mengobrol atau berpapasan di jalan dengan F, tidak seperti orang lain yang serasa biasa-biasa saja. day to day berlalu kita lalui tanpa rintangan menghadang. Waktu itu, kita telah sepakat untuk tidak pacaran sampai umur 25 tahun lalu menikah atau status kita adalah sahabat atau teman dekat. Tetapi, menurutku sikap kita melebihi seorang sahabat atau teman dekat, mengapa kita saling cemburu satu sama lain saat kita mengobrol dengan teman satu kelas? Mengapa kita selalu memperdulikan satu sama lain saat itu? Mengapa? Mengapa?. Kita dekat, Sangking dekatnya sampai-sampai aku mengetahui nama-nama seluruh anggota keluargamu, ibumu, ayahmu, saudara-saudaramu, bahkan mereka pun mengetahui aku, seorang remaja laki-laki yang menyukai gadis kembang di keluarga F.
aku Bodoh? Sangat bodoh? Ya sangat-sangat bodoh? Mengapa saat itu aku menghapus pesan dari seorang wanita insial Y itu, ahhhh. . . bodoh. Yang berisi tembakan (ungkapan perasaan melalui Facebook). Pesan Y menganggu pikiranku, lebih baik aku menghapus pesan itu dari pada kamu mengetahui bahwa Y mengungkapkan perasaannya kepadaku yang efeknya membuat kamu cemburu keras. Seperti yang kamu ketahui aku dan F jarang sekali chatting-an melalui Facebook, efeknya ungkapan Y melalui Facebook masuk keadalam chattingan favorite-ku (tampilan obrolan yang paling sering mengobrol) di android. Lalu F melihat chatinggan favorite-ku, hal itu sontak membuat perang dunia III dimulai. Aku beberapa kali berbohong kepada F, agar F tidak mengatahui hal itu. Tetapi, lain di akal lain di hati, kata F ‘ dasar ngaak jujur, lebih baik kamu jujur daripada kayak gini, mengapa sih ungkapan perasaan Y kamu hapus?’
Masalah itulah yang membuat tali pertemanan kita pudar. Dan sekarang Aku rindu saat aku berasa salting (salah tingkah) saat bertemu denganmu, rindu pipimu merona saat mendengarkan namaku, rindu kita ngobrol membawas beasiswa, rindu saat kita saling membantu, rindu saat kamu memberikanku saran-saran, rindu saat dirimu mengajariku secuil memori ilmumu. Aku masih bisa merasakan hal-hal itu. Aku masih ingat saat betapa salah tingkah dan lucunya aku, saat bertemu kamu.
Aku tau aku salah waktu itu, tetapi siapa yang peduli saat itu. Yang aku tau hanya, cinta itu menyakitkan ketika kamu pergi. Itu saja. bodoh kan ya? Sangat bodoh. Terkadang aku tertawa bila mengigat semua itu. Perjalanan kita amat lucu ternyata. Aku selalu mengingat kita memulai hubungan dengan cara yang salah atau dalam artian terlalu baper saat menjadi seorang teman dekat. Meskipun aku berbohong agar tidak di ketahui oleh kamu dan kamu mulai pergi perlahan dari warna hidupku. Tapi aku tidak ingin menyalahkan siapapun, karena untuk masalah perasaan semua orang akan selalu merasa dirinya benar.
Tulisanku di awal bahwa aku merindukanmu, tetapi setelah menulis dan memposting ini semua aku tak lagi merasakannya. Aku sedang tersenyum, percayalah, aku bahagia. Aku tak perlu merindukanmu lagi. Hehehehe. . . aku hanya berharap aku dan kamu baik-baik saja. kita bahagia bersama di jalan yang berbeda untuk sekarang, tetapi akankah kita bahagia di jalan yang sama suatu hari nanti?
MUNGKIN IYA, MUNGKIN TIDAK. Pendapatmu gimana kawan?

Terima kasih sudah membaca kawan.

Komentar

  1. Dan, gaya ceritamu tulus :)
    Btw, rindu memang sesesak itu. Dan para penulis rindu memang lihai untuk merangkai kata, "Aku bahagia", atau "Aku tak perlu merindukanmu lagi."
    Padahal di tulisan selanjutnya ia tetap sering menulis tema yang sama, yaitu rindu, dengan tujuan orang yang sama.
    Ciee..uhuy..

    BalasHapus
  2. Biarlah waktu yg menjawab smua teka teki kalian, tak mengapa asal kau tau, dikatan atau tidak menurutku itu tetap cinta :))

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kuasa Uang